 |
Persiapan Menjelang Ramadhan
4:13 PM on Wed 20 August 2008
Dalam menyambut bulan Ramadhan, seringkali kita tidak punya persiapan sama sekali. Sehingga ketika datang bulan yang istimewa ini, sikap kita terhadap kedatangan bulan ini adalah seperti bulan-bulan biasa saja. Bahkan kadang-kadang kita menganggap bahwa bulan istimewa ini akan mendatangkan banyak beban. Na’udzubillah min dzalik! Dan seringkali juga kita tidak tahu tentang hukum-hukum syara’ yang terkait dengan bulan Ramadhan. Sehingga kita akan banyak melihat orang Islam yang melanggar hukum-hukum syara’ yang terkait di bulan Ramadhan.
Oleh kerana itu ada beberapa persiapan yang patut dilakukan. Persiapan tersebut guna mendapatkan buah Ramadhan yang mahal dan dapat melakukan amaliyahnya secara optimum dan maksimum. Sehingga bukan saja merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan akan tetapi memang sudah dipersiapkan sematang mungkin untuk berlumba-lumba dalam aktiviti kebajikan.
1. Persiapan Nafsiyah
Yang dimaksudkan dengan mempersiapkan nafsiyah adalah menyambut dengan hati gembira bahwasanya Ramadhan datang sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Maknawiyah yang siap akan memandang Ramadhan bukan sebagai bulan penuh beban melainkan bulan untuk berlumba-lumba meningkatkan kualiti ubudiyah dan meraih darjat tertinggi di sisi Allah SWT.
Persiapan nafsiyah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam usaha memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Tazkiyatun nafsi (kesucian jiwa) akan melahirkan keikhlasan, kesabaran, tawakal dan amalan-amalan hati lainnya, yang akan menuntun seseorang kepada jinjang ibadah yang berkualiti dan kuantiti. Dan salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut bulan Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah-ibadah di bulan-bulan sebelumnya (minimum di bulan Sya’ban), sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah ra:
“Belum pernah Rasulullah Saw berpuasa (sunnah) di bulan-bulan lain, sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.”[HR. Muslim].
Seorang yang menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan tanpa memiliki persiapan secara nafsiyah dikhawatirkan puasanya akan menjadi sia-sia sebagaimana hadits Rasulullah Saw dengan sabdanya. Dari Abu Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah Saw:
“Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan sesuatu pun dari puasanya kecuali lapar. Dan berapa banyak orang yang shalat malam, tidak mendapatkan sesuatu pun dari shalatnya melainkan hanya bergadang.”[HR. Ibnu Majah].
2. Persiapan Tsaqafiyah
Untuk dapat meraih amalan di bulan Ramadhan secara optimum maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fiqh ash-shiyâm. Oleh kerna itu persiapan tsaqafiyah tidak kalah penting bagi seseorang untuk mendapatkannya. Dengan pemahaman fiqh ash-shiyâm yang baik dia akan memahami dengan benar mana perbuatan yang dapat merosakkan nilai puasanya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualiti puasanya.
Dari Mu’adz bin Jabal ra:
“Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, kerana mencari ilmu kerana Allah adalah ibadah.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mennyatakan tentang hadith diatas,“Orang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perosak-perosak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya.” Suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerosakannya lebih banyak daripada kebaikannya, dan hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui kaifiat berpuasa dan shalat yang benar serta sesuai dengan syariat Islam.
Jembatan menuju kebenaran adalah ilmu, dan siapa yang menempuh perjalanan hidupnya dalam rangka menuntut ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju Syurga. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.”[HR. Muslim].
3. Persiapan Jasadiyah
Tidak dapat dimungkiri bahawa aktiviti Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fizik, untuk puasanya, tarawihnya, tilawahnya dan aktiviti ibadah lainnya. Dengan kondisi fizik yang baik dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewat sedikitpun. Kerana bila kondisi fizik tidak prima terbuka peluang untuk tidak melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimum, bahkan terlewat begitu saja. Padahal bila terlewat nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.
4. Persiapan Maliyah
Persiapan material ini bukanlah untuk beli pakaian baru atau bekal perjalanan pulang kampung atau untuk membeli kuih-muih iedul fitri. Akan tetapi untuk infaq, shadaqah dan zakat. Sebab nilai balasan infaq, shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:
“Rasulullah pernah ditanya,‘Sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab,‘Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan’.”12
Oleh karena itu, sebaiknya aktiviti ibadah di Bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari kita dengan aktiviti mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap Muslim dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, shadaqah, memberi makan, dan lain-lain. Kerana itu, seyugianya dibuat sebuah agenda maliyah yang memprediksikan pengeluaran dan pendapatan selama bulan Ramadhan. Dengan jelas posisi kewangan kita dapat melakukan penjadualan dan mengalokasikan shadaqah dan infaq serta makanan yang akan kita berikan sepanjang bulan itu. Kerana saat Ramadhan merupakan saat yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliyah kita.
Bulan Ramadhan merupakan bulan muwâsah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesenduk nasi.
Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah Saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata seakan sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas ra:
“Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya al-Qur’an. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”[HR. Bukhari dan Muslim].13
Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan material yang memadai. Termasuk dalam persiapan maliyah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tenang tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga. Untuk itu, mesti dicari tabungan dana yang mencukupi kebutuhan di bulan Ramadhan.
[Tips yang baik untuk mmembantu kita semua dalam membuat persiapan menuju ke Ramadhan yang hanya tinggal tidak sampai 2 minggu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita.]
|